Jumat, 5 Juni 2026
Jumat, 5 Juni 2026

21 Tenaga Pendamping Gizi Desa Diterjunkan, Pangkep Perkuat Aksi Hentikan Stunting

PANGKEP — Program Aksi Stop Stunting (ASS) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi menyasar 21 lokus di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Sebanyak 21 Tenaga Pendamping Gizi Desa (TPGD) disiapkan untuk memperkuat upaya penanganan dan pencegahan stunting secara langsung di masyarakat.

Kehadiran para TPGD ini disambut langsung oleh Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau, didampingi Ketua TP PKK Pangkep, Nurlita Wulan Purnama, serta Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, Hj. Herlina, dalam acara penerimaan yang digelar di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep.

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan pemerintah daerah untuk memperkuat peran pendamping desa dalam menangani berbagai permasalahan gizi, khususnya stunting.

Dalam arahannya, Bupati Yusran menekankan pentingnya kerja kolaboratif lintas sektor guna menurunkan angka stunting di daerah. Ia memaparkan lima poin strategi yang menjadi fokus dalam pelaksanaan Program ASS:

Deteksi dini dan penemuan kasus balita stunting, termasuk wasting (gizi buruk akut) yang bersifat kronis.

Intervensi gizi yang tepat, melalui penguatan peran Rumah Gizi sebagai pusat pendidikan dan layanan penyediaan gizi masyarakat.

Pencatatan data yang akurat, untuk menjadi dasar pengambilan kebijakan serta evaluasi program.

Pendampingan keluarga penerima manfaat (KPM) secara berkesinambungan, melibatkan kader dari berbagai unsur seperti PKK, KB, dan Posyandu.

Pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas program.

Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, Hj. Herlina, menjelaskan bahwa penempatan TPGD akan difokuskan pada 21 lokus dengan angka stunting yang masih tergolong tinggi.

“Keberadaan tim pendamping ini diharapkan mampu membantu anak-anak yang mengalami stunting. Harapannya, ke depan, kita bisa mewujudkan Pangkep bebas stunting,” ujar Herlina.

Ia menambahkan, tugas TPGD tidak hanya fokus pada stunting, tetapi juga mencakup penanganan gizi buruk dan kelebihan berat badan.

“Setiap lokus akan menangani sekitar 30 anak.Ini mencakup pemantauan, edukasi, dan pendampingan gizi secara menyeluruh,” jelasnya.

Herlina juga berharap program ini dapat berjalan dengan baik dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki anak dengan permasalahan gizi.